Psikologi Perkembangan Fisik, Kognitif, Sosial Anak

Diposting oleh M. Nasorudin on 01.04

2.1 KARAKTERISTIK PERKEMBANGAN ANAK-ANAK
Karakter yaitu konskuen tidaknya dalam memetuhi etika perilaku, konsisten atau teguh tidaknya dalam memegang pendirian atau pendapat. Perkembangan merupakan suatu perubahan, dan perubahan ini tidak bersifat kuantitatif melainkan kualitatif. Perkembangan tidak ditekankan pada segi materiil, melainkan pada segi fungsional. Pada masa anak-anak awal berlangsung dari umur 2 tahun hingga umur 6 tahun, yang ditandai dengan terjadinya Perkembangan fisik, motorik, kognitif (Perubahan dalam sikap, nilai dan perilaku) psikososial serta diikuti oleh perubahan-perubahan lain.
2.1.1 Perkembangan Fisik
Pertumbuhan fisik pada masa ini lambat dan relatif seimbang. Peningkatan berat badan anak lebih banyak daripada panjang badannya. Peningkatan berat badan anak terjadi terutama karena bertambahnya ukuran sistem rangka, otot dan ukuran beberapa organ tubuh lainnya. Meskipun selama masa anak-anak pertumbuhan fisik mengalami perlambatan, namun keterampilan-keterampilan motorik kasar dan motorik halus justru berkembang pesat. Berkaitan dengan perkembangan fisik ini Kuhlen dan Thompson (Hurlock, 1956) mengemukakan bahwa perkembangan fisik individu meliputi 4 aspek, yaitu :
1. Sistem syaraf, yang sangat mempengaruhi perkembangan kecerdasan dan emosi.
2. Otot-otot, yang mempengaruhi perkembangan kekuatan dan kemampuan motorik.
3. Kelenjar Endokrin, yang menyebabkan munculnya pola-pola tingakah laku baru.
4. Struktur Fisik atau Tubuh, yang meliputi tinggi, berat dan proporsi.
Selama masa anak-anak awal, tinggi rata-rata anak bertumbuh 2,5 hingga 3,5 kg tiap tahunnya. Pada usia 3 Tahun, tinggi anak sekitar 38 inci dan beratnya sekitar 16,5 kg. Pada usia 5 tahun tinggi anak mencapai 43,6 inci dan beratnya 21,5 kg. Sedangkan Pertumbuhan otaknya pada usia 5 tahun sudah mencapai 75 % dari ukuran orang dewasa dan 90 % pada usianya sekitar 5 sampai 6 tahun. Pada usia ini juga terjadi pertumbuhan “myelination” yaitu lapisan urat syaraf dalam otak yang terdiri dari bahan penyekat berwarna putih yaitu myelin. Proses ini berdampak terhadap peningkatan kecepatan informasi yang berjalan melalui system urat syaraf.

2.1.2. Perkembangan Psikomotorik dan Motorik
a. Perkembangan Psikomotorik
Loree (1970 : 75) menyatakan bahwa ada dua macam perilaku psikomotorik utama yang bersifat universal harus di kuasai oleh setiap individu pada masa bayi atau awal masa kanak-kanaknya ialah berjalan (walking) dan memegang benda (prehension). Kedua jenis keterampilan psikomotorik ini merupakan basis bagi perkembangan keterampilan yang lebih kompleks seperti yang kita kenal dengan sebutan bermain (playing) dan bekerja (working). Dua prinsip perkembangan utama yang tampak dalam semua bentuk perilaku psikomotorik ialah :
1. Bahwa perkembangan itu berlangsung dan yang sederhana kepada yang kompleks.
2. Yang kasar dan global (gross bodily movements) kepada yang halus dan spesifik tetapi terkoordinasikan (finely coordinated movements).
Pada saat yang sama, kalau pada fase sebelumnya, anak perlu menciptakan sense of identity sebagai seorang manusia dan kepercayaan untuk melakukan eksplorasi
sendiri, maka pada fase ini yang harus diciptakan adalah identitas diri macam apa, terutama sehubungan dengan jenis kelamin mereka. Seperti mang Jeha bilang, anak belajar menjadi lelaki atau perempuan bukan hanya dari alat kelamin tapi juga dari perlakuan sekeliling pada mereka. Fase inilah konon yang peranan besar dalam menentukan identitas ini karena pengaruh kelamin mulai dirasakan secara psikologis : Anak lelaki menjadi lebih sayang pada ibu dan tidak begitu senang pada bapak sementara anak perempuan menjadi dekat bapak dan merasa disaingi ibu dan Anak kecil menjadi sayang pada Guru TKnya. Masa awal anak-anak ini merupakan masa yang penuh dengan imajinasi, ketika anak-anak atau individu memasuki tahun-tahun sekolah dasar, mereka mengarahkan energi mereka pada penguasaan pengetahuan dan keterampilan intelektual. Tertarik pada bagaimana sesuatu diciptakan dan bagaimana sesuatu itu bekerja. Orang tua atau guru memberikan antusiasme pada daya tarik anak pada kegiatan-kegiatannya untuk mendorong bangkitnya rasa tekun anak.
b. Perkembangan Motorik
Perkembangan motorik pada usia ini menjadi lebih halus dan lebih terkoordinasi dibandingkan dengan masa bayi. Anak-anak terlihat lebih cepat dalam berlari dan pandai meloncat serta mampu menjaga keseimbangan badannya. Untuk memperhalus keterampilan motorik, anak-anak terus melakukan berbagai aktivitas fisik yang terkadang bersifat informal dalam bentuk permainan. Disamping itu, anak-anak juga melibatkan diri dalam aktivitas permainan olahraga yang bersifat formal, seperti senam, berenang dll.
Beberapa perkembangan motorik (kasar maupun halus) selama periode ini antara lain:
a) Anak usia 2-3,5 tahun
• Mampu berjalan, berlari dan melompat.
• Naik dan turun tangga.
• Mampu menggunakan krayon dan meniru sebuah lingkaran.
• Mampu menggunakan benda atau alat, seperti menggunakan sendok untuk makan.
• Mampu menyusun beberapa kotak
b) Anak usia 3,5-4,5 tahun
• Mampu berjalan dengan 80% langkah orang dewasa dan berlari 1/3 kecepatan orang dewasa.
• Mampu melempar dan menangkap bola besar, akan tetapi lengan masih agak kaku.
• Mampu mengancing baju.
• Menggunakan pensil dan membuat gambar sederhana.
c) Anak usia 5-5,5 tahun
• Mampu meloncat dan menari.
• Menggambarkan orang yang terdiri dari kepala, lengan dan badan.
• Mampu menyeimbangkan badan diatas satu kaki
• Mampu berlari jauh.
• Dapat menghitung jari-jarinya.
• Mendengar dan mengulang hal-hal penting dan mampu bercerita.
• Mempunyai minat terhadap kata-kata baru beserta artinya.
• Memprotes bila dilarang apa yang menjadi keinginannya.
• Mampu membedakan besar dan kecil.
• Meniru angka dan huruf sederhana.
• Membuat susunan yang kompleks dengan kotak-kotak.
• Mampu menggunting.


d) Anak usia 6 tahun
• Ketangkasan meningkat.
• Melompat tali.
• Bermaon sepedah.
• Mengetahui kanan dan kiri.
• Mungkin bertindak menentang dan tidak sopan.
• Mampu menguraikan objek-objek dengan gambar
• Menulis huruf cetak.
2.1.3 Perkembangan Kognitif
Dalam keadaan normal, pada periode ini pikiran anak berkembang secara berangsur-angsur. Jika pada periode sebelumnya, daya pikir anak masih bersifat imajinatif dan egosentris, maka pada periode ini daya pikir anak sudah berkembang kea rah yang lebih konkrit, rasional dan objektif. Daya ingatnya menjadi sangat kuat, sehingga anak benar-benar berada pada stadium belajar.
 Perkembangan Kognitif menurut Teori Piaget
Perkembangan kognitif pada masa awal anak-anak dinamakan tahap Praoperasional (preoperational stage). Pada tahap ini, konsep yang stabil dibentuk, penalaran mental muncul, egosentrisme mulai kuat dan kemudian melemah, serta terbentuknya keyakinan terhadap hal yang magis. Tetapi, sebagai “pra” dalam istilah “praoperasional” menunjukan bahwa pada tahap ini teori Piaget difokuskan pada keterbatasan pemikiran anak. Jadi, secara garis besarnya pemikiran praoperasional dapat dibagi kedalam dua subtahap, yaitu subtahap prakonseptual (pemikiran simbolik) dan subtahap pemikiran intuitif. Sedangakan teori Piaget tentang pemikiran anak0anak usia sekolah dasar disebut pemikiran Operasional Konkrit (Concret Operational Thought) artinya aktivitas mental yang difokuskan pada objek-objek peristiwa nyata atau konkrit. Dalam upaya memahami alam sekitarnya, mereka tidak lagi terlalu mengandalkan informasi yang bersumber dari panca indera, karena mereka mulai mempunyai kemampuan untuk membedakan apa yang tampak oleh mata dengan kenyataan sesungguhnya. Dalam masa ini, anak telah mengembangakan 3 macam proses yang disebut dengan operasi-operasi, yaitu:
1. Negasi (Negation), yaitu pada masa konkrit operasional, anak memahami hubungan-hubungan antara benda atau keadaan yang satu dengan benda atau keadaan yang lain.
2. Hubungan Timbal Balik (Resiprok), yaitu anak telah mengetahui hubungan sebab akibat dalam suatu keadaan.
3. Identitas, yaitu anak sudah mampu mengenal satu persatu deretan benda-benda yang ada.
Operasi yang terjadi dalam diri anak memungkinkan pula untuk mengetahui suatu perbuatan tanpa melihat bahwa perbuatan tersebut ditunjukan. Jadi, pada tahap ini anak telah memiliki struktur kognitif yang memungkinkannya dapat berfikir untuk melakukan suatu tindakan tanpa mereka sendiri bertindak secara nyata.
a. Perkembangan Memori
Selama periode ini, memori jangka pendek anak telah berkembang dengan baik. Akan tetapi, memori jangka panjang tidak terjadi banyak peningkatan dengan disertai adanya keterbatasan-keterbatasan. Untuk mengurangi keterbatasan tersebut, anak berusaha menggunakan strategi memori (memory strategy), yaitu merupakan perilaku disengaja yang digunakan untuk meningkatkan memori. Maltin (1994) menyebutkan 4 macam strategi memori yang penting, yaitu:
1. Rehearsal (Pengulangan), yaitu suatu strategi meningkatkan memori dengan cara mengulang berkali-kali informasi yang telah disampaikan.
2. Organization (Organisasi), Pengelompokan dan pengkategorian sesuatu yang digunakan untuk meningkatkan memori. Seperti anak SD sering mengingat nama-nama teman sekelasnya menurut susunan dimana mereka duduk dalam satu kelas.
3. Imagery (Perbandingan), Membandingkan sesuatu denga tipe dari karakteristik pembayangan dari seseorang.
4. Retrieval (Pemunculan Kembali), Proses mengeluarkan atau mengangkat informasi dari tempat peyimpanan. Ketika suatu isyarat yang mungkin dapat membantu memunculkan kembali sebuah teori, mereka akan menggunakannya secara spontan.
Selain strategi-strategi memori diatas, terdapat hal lain yang mempengaruhi memori anak, seperti tingkat usia, sifat anak (termasuk sikap, kesehatan dan motivasi) serta pengetahuan yang diperoleh anak sebelumnya.
b. Perkembangan Pemikiran Kritis
Perkembangan pemikiran kritis yaitu pemahaman atau refleksi terhadap permasalahan secara mendalam, mempertahankan pikiran agar tetap terbuka, tidak mempercayai begitu saja informasi-informasi yang datang dari berbagai sumber serta mampu berfikir secara relektif dan evaluatif. Sebagai anak yang mulai tumbuh menjadi lebih besar, mereka berusaha mengetahui tentang pikirannya sendiri, tentang bagaimana belajar dan mengingat situasi-situasi yang dialami setiap hari, dan bagaimana seseorang dapat meningkatkan penilaian kognitif mereka.
c. Perkembangan Kreativitas
Dalam tahap ini, anak-anak mempunyai kemampuan untuk menciptakan sesuatu yang baru. Perkembangan ini sangat dipengaruhi oleh lingkungan. Terutama lingkungan sekolah.
d. Perkembangan Bahasa
Selama masa anak-anak awal, perkembangan bahasa terus berlanjut. Perbendaharaan kosa kata dan cara menggunakan kalimat bertambah kompleks. Perkembangan ini terlihat dalam cara berfikir tentang kata-kata, struktur kalimat dan secara bertahap anak akan mulai menggunakan kalimat yang lebih singkat dan padat, serta dapat menerapkan berbagai aturan tata bahasa tepat. Anak mengucapkan kalimat yang makin panjang dan makin bagus, menunjukkan panjang pengucapan rata-rata anak telah mulai menyatakan pendapatnya dengan kalimat majemuk. Sesekali ia menggunakan kata perangkai, yang akhirya timbul anak kalimat. Schaerlaekens (1977), membedakan perkembangan bahasa pada masa awal anak-anak ini atas tiga, yaitu : periode pra-lingual (kalimat satu kata), periode lingual-awal (kaliamt dua kata) dari 1 hingga 2,5 tahun, dan periode differensiasi (kaliamat tiga kata dengan bertambahnya diferensiasi pada kelompok kata dan kecapan verbal).
e. Perkembangan Emosi
Diantara beberapa faktor yang mempengaruhi emosi anak antara lain:
Kecerdasan, anak yang cerdas lebih aktif dalam menjelajahi lingkungannya dan lebih banyak bertanya daripada anak yang kecerdasannya lebih rendah. Perbedaan seks, dalam emosi terutama karena tekanan social untuk mengungkapkan emosi sesuai dengan kelompoknya. Besarnya Keluarga juga sangat mempengaruhi sering dan kuatnya rasa cemburu dan iri hati. Lingkungan Sosial, rumah memainkan peran yang penting dalam menimbulkan sering dan kuatnya rasa marah anak, misalnya bila ada tami di rumah. Jenis Disiplin dan Metode Latihan anak juga mempengaruhi frekuensi ledakan amarah anak. Semakin orang tua otoriter, semakin besar kemungkinan anak bereaksi dengan amarah.
2.1.4 Perkembangan Psikososial
Pada tahap ini, anak dapat menghadapi dan menyelesaikan tugas atau perbuatan yang dapat membuahkan hasil, sehingga dunia psikososial anak menjadi kompleks. Anak sudah siap untuk meninggalkan rumah dan orang tuanya dalam waktu terbatas, yaitu pada saat anak berada di sekolah. Melalui proses pendidikan ini, anak belajar untuj bersaing (kompetitif), kooperatif dengan orang lain, saling memberi dan menerima, setia kawan dan belajar peraturan-peraturan yang berlaku. Dalam hal ini proses sosialisasi banyak terpengaruh oleh guru dan teman sebaya. Identifikasi bukan lagi terhadap orang tua, melainkan terhadap guru. Selain itu, anak tidak lagi bersifat egosentris, ia telah mempunyai jiwa kompetitif sehingga dapat memilih apa yang baik bagi drinya, mampu memecahkan masalahnya sendiri dan mulai melakukan identifikasi terhadap tokoh tertentu yang menarik perhatian.
a. Perkembangan Pemahaman Diri ( Kepribadian)
Pada tahap ini, pemahaman diri atau konsep diri anak mengalami perubahan yang sangat pesat. Mereka lebih memahami dirinya melalui karakteristik eksternal. Pada masa ini juga, berkenbang kesadaran dan kemampuan untuk memenuhi tuntutan dan tanggung jawab. Dalam hal ini, hubungan anak dengan keluarga umumnya penting, tetapi sikap orang tua merupakan unsure paling penting. Bagaimana pandangan orang tua mengenai penampilan, kemampuan dan prestasinya sangat mempengaruhi cara anak memandang dirinya sendiri.
Aspek-aspek perkembangan kepribadian anak meliputi:
 Dependency and Self-Image
Perkembangan sikap independensi dan kepercayaan diri(Self Confidence) anak sangat terkait dengan cara perlakuan orang tuanya. Gaya perlakuan orang tua kepada anak sangat beragam, ada yang terlalu memanjakan, bersikap keras, penerimaan dan kasih sayang, acuh tak acuh (permisif) masing-masing cenderung berdampak beragam pula bagi kepribadian anak.
 Initiative vs Guilt
Anak berkembang baik secara fisik maupun kemampuan intelektual serta berkembangnya rasa percaya diri untuk melakukan sesuatu. Mereka mampu mengontrol lingkungan fisik sebagimana dia mampu mengontrol tubuhnya. Pada tahap ini, anak sudah siap dan berkeinginan untuk belajar dan bekerjasama dengan orang lain untuk mencapai tujuan. Yang berbahaya adalah, jika tidak tersalurkannya energi yang mendorong anak untuk aktif dalam rangka memenuhi keinginannya, karena mengalami hambatan atau kegagalan, sehingga anak mengalami rasa bersalah (Guilt) dan anak mungkin menjadi nakal atau pediam.


b. Perkembangan Permainan
Permainan mempunyai arti yang sangat penting bagi perkembangan kehidupan anak-anak. Sebab, anak-anak menghabiskan lebih banyak waktunya di luar rumah bermain dengan teman-temannya dibandingkan terlibat dalam aktivitas lain. Berdasarkan observasinya terhadap anak-anak usia 2 hingga 5 tahun, Parten menemukan 6 kategori permaina anak-anak, yaitu:
1. Permainan Unoccupied, Anak memperhatikan dan melihat sesuatu yang menarik perhatian dan melakukan gerakan-gerakan bebas dalam bentuk tingkah laku yang tidan terkontrol.
2. Permainan Solitary, Anak dalam sebuah kelompok asyik bermain sendiri dengan permainannya, sehingga tidak terjadi kontak dan tidak peduli terhadap apa pun yang sedang terjadi.
3. Permainan Onlooker, Anak memperhatikan anak-anak lain bermain, anak ikut bicara dengan anak-anak tersebut dan mengajukan pertanyaan, tetapi tidak ikut terlibat dalam aktivitas permainan tersebut.
4. Permainan Parallel, Anak-anak bermain dengan alat permainan yang sama, tetapi tidak kontak antara satu dengan yang lain.
5. Permainan Assosiative, Anak bermain bersam, saling pinjam alat permainan, tetapi permainan itu tidak mengarah pada satu tujuan.
6. Permainan Cooperative, Anak bermain dalam kelompok yang terorganisir dimana setiap anak mempunyai peranan tersendiri.
c. Perkembangan Hubungan dengan Keluarga
Dalam hal ini, orang tua merasakan pengontrolan dirinya terhadap tingkah laku anak mereka berkurang dari waktu ke waktu dibandingkan dengan periode sebekumnya, karena rata-rata anak menghabiskan waktunya di sekolah. Interaksi guru dan teman sebaya di sekolah memberikan suatu peluang yang besar bagi anak-anak untuk mengembangkan kemampuan kognitif dan keterampilan sosial.
Salah satu aspek penting dalam hubungan orang tua dan anak adalah gaya pengasuhan yang diterapkan oleh orang tua dan anak adalah gaya pengasuhan yang diterapkan oleh orang tua. Studi klasik tentang hubungan orang tua dan anak yang dilakukan oleh Diana Baumrind, 1972 merekomendasikan tiga aspek pengasuhan yang dikaitkan dengan aspek-aspek yang berbeda dalam tingkah laku sosial anak, yaitu:
1. Pengasuhan Otoratif (Authoritative Parenting) adalah salah satu gaya pengasuhan yang memperlihatkan pengawasan ekstra ketat terhadap tingkah laku anak, tetapi mereka juga bersikap responsive, menghargai dan menghormati pemikiran, perasaan serta mengikutsertakan anak dalam pengambilan keputusan.
2. Pengasuhan Otoriter (Authoritarian Parenting) adalah suatu gaya pengasuhan yang membatasi dan menuntut anak untuk mengikuti perintah-perintah orang tua.
3. Pengasuhan Permisif (Permissive Parenting) adalah gaya pengasuhan permisif yang dapat dibedakan dalam dua bentuk, yaitu: pertama, Permissive-Indulgent yaitu suatu gaya pengasuhan dimana orang tua sangat terlibat dalam kehidupan anak, tetapi menetapkan sedikit batas atau kendali atas mereka. Kedua, Permissive-Indifferent, yaitu suatu gaya pengasuhan dimana orang tua tidak sangat terlibat dalam kehidupan anak.
d. Perkembangan Hubungan dengan Teman Sebaya
Berinteraksi dengan teman sebaya merupakan aktivitas yang banyak menyita waktu. Umumnya mereka meluangkan waktu lebih dari 40% untuk berinteraksi dengan teman sebaya dan terkadang terdapat suatu grup atau kelompok. Anak tidak lagi puas bermain sendirian di rumah. Hal ini karena anak mempunyai keinginan kuat diterima sebagai anggota kelompok.
Sejumlah penelitian telah merekomendasikan betapa hubungan sosial dengan teman sebaya memiliki arti yang sangat penting bagi perkembangan pribadi anak. Salah satu fungsi kelompok teman sebaya yang paling penting menyediakan suatu sumber informasi dan perbandingan tentang dunia di luar keluarga.
e. Perkembagan Gender
Gender merupakan salah satu aspek penting yang mempengaruhi perkembangan sosial pada masa awal anak-anak. Kebanyakan anak mengalami sekurang-kurangnya tiga tahap dalam perkembangan gender, yaitu:
1. Anak mengembangkan kepercayaan tentang identitas gender, yaitu rasa laki-laki atau perempuan.
2. Anak mengembangkan keistimewaan gender.
3. Mereka memperoleh ketetapan gender, suatu kepercayaan bahwa jenis kelamin seseorang ditentukan secara biologis, permanent dan tak berubah-ubah.


f. Perkembangan Kesadaran Beragama
Pengetahuan anak tentang agama berkembang sejalan dengan pengalamannya dalam mendengarkan ucapan-ucapan orang tuanya, melihat sikap dan perilaku orang tuanya dalam beribadah, selanjutnya mereka berusaha meniru dari apa yang telah dilihat maupun didengarnya. Sesuai dengan perkembangan intelektualnya yang terungkapmelalui kemampuan berbahasanya, maka saat ini tepat sekali jika diajarkan do’a, surat-surat pendek, bacaan dan gerakan shalat juga membaca al-Qur’an.
g. Perkembangan Moral
Perkembangan moral adalah perkembanganyang berkaitan dengan aturan dan konvensi mengenai apa yang seharusnya dilakukan oleh manusia dalam interaksinya dengan orang lain. Dalam menggambarkan perkembangan moral, teori psikoanalisa dengan pembagian struktur kepribadian manusia menjadi tiga yaitu:
1. Id adalah struktur kepribadian yang terdiri dri aspek biologis yang irasional dan tidak disadari.
2. Ego adalah struktur kepribadian yang terdiri atas aspek0aspek psikologis, yaitu subsistem ego yang rasional dan disadari, namun tidak memiliki moralitas.
3. Superego adalah strktur kepribadian yang terdiri atas aspek sosial yang berisikan sistem nilai dan moral, yang benar-benar memperhitungkan benar atau salahnya sesuatu.
Dalam rangka membimbing perkembangan moral anak prasekolah ini, sebaiknya orang tua atau guru-guru TK melakukan upaya-upaya berkut:
a. Memberikan contoh atau teladan yang baik dalam berperilaku atau bertutur kata
b. Menanamkan kedisiplinan pada anak dalam berbagai aspek kehidupan, seperti memelihara kebersihan dan kesehatan, tatakrama atau berbudi pekerti luhur.
c. Mengembangkan wawasan tentang nilai-nilai moral kepada anak, baik melalui pemberian informasi, atau melalui cerita, seperti tentang riwayat orang-orang yang baik (para nabi dan pahlawan), dunia bintang yang mengisahkan tentang nilai kejujuran, kedermawanan, kesetiakawanan dan kerajinan.

0 komentar:

Posting Komentar